+ Reply to Thread
Page 1 of 3 123 LastLast
Results 1 to 20 of 45

Thread: Rahasia Peta Harta Karun

  1. #1
    Junior Member
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    22

    Default Rahasia Peta Harta Karun

    Ch. 1
    Hari belum lagi terang. Terlihat beberapa perahu nelayan mulai mendekati pantai. Beberapa yang lainnya sudah merapat ke pantai. Terdengar senda gurau para nelayan sambil mereka membersihkan jalanya dari ganggang dan rumput laut. Beberapa anak lari menghampiri perhau-perahu itu untuk membantu ayah mereka membawa ikan hasil tangkapan semalam. Terasa rukun dan damai kehidupan di desa nelayan itu. Tetapi manusia tidak dapat menduga peristiwa yang akan terjadi kemudian.
    Tiba-tiba saja suasana yang damai dan penuh canda itu terhenti oleh suara derap kaki kuda yang menggemuruh mendekati desa itu. Para nelayan dengan dibantu oleh anak-anak cepat-cepat menarik perahu merka ke dataran yang lebih tinggi, lalu segera berlari menuju desa dengan penuh rasa ingin tahu. Setibanya di desa, mereka melihat dua puluh orang berkuda sudah menanti di tengah-tengah desa.
    Melihat para nelayan sudah berkumpul, seorang penunggang kuda berbadan tinggi besar turun dari kuda dan bertanya dengan suara keras. “Dimanakah pemimpin desa ini?”
    Para nelayan menjadi kurang senang atas sikap penunggang kuda tersebut. Seorang diantara mereka maju menghampiri dan bertanya, “Ada keperluan apa saudara datang ke desa ini?”
    Sebelum yang ditanya menjawab, terdengar suara bentakan dari arah para penunggang kuda itu. “Jangan banyak bicara, tunjukkan saja dimana pimpinan kalian!”
    Semakin tidak senanglah para nelayan tersebut. Serorang diantara mereka yang brangasan bergerak untuk menghampiri orang yang berkata tadi. Tetapi sebelum dia melangkah, lengannya dipegang oleh seorang laki-laki setengah umur.
    Dengan cepat dia menengok dan laki-laki itu berkata dengan suara pelan, “Jangan terbawa emosi, orang-orang ini sengaja mencari keributan.”
    Mukanya perlahan-lahan menjadi tenang kembali dan dia menjawab, “Terima kasih atas nasehat Bapak.”
    Laki-laki itu tersenyum dan kemudia maju menghampiri rombongan penunggang kuda tersebut. Sebelum dia mengucapkan sesuatu, penunggang kuda yang berbadan tinggi besar itu sudah mendahului berkata, “Jadi andalah si kepala desa itu. Memang sesuai sekali.” Ucapan itu disambut dengan suara tertawa yang ramai dari rombongan penunggang kuda tersebut.
    Tetapi laki-laki itu tetap berlaku tenang dan setelah suara tertawa itu mereda, dia berkata, “Memang sayalah kepala desa nelayan ini. Selamat datang di desa kami dan mohon maaf datas kekurang-ramahan kami dalam menyambut kedatangan Tuan-tuan sekalian.”
    Orang asing itu menjawab, “Kami adalah orang kasar. Kami tidak butuh keramahan kalian semua. Sekarang, serahkan benda yang kami inginkan yaitu peta penyimpanan harta milik hartawan Ciu.”
    “Cepat serahkan, atau kami akan mencarinya sendiri!” teriak seorang penunggang kuda yang lain. Kagetlah para penduduk desa nelayan itu. Mereka bingung mendengar tentang peta harta karun tersebut.
    Salah seorang nelayan berkata, “Peta apakah yang Tuan maksudkan dan siapakah hartawan Ciu itu?”
    “Jangan pura-pura bodoh nelayan tengik! Kalian pikir kami tidak tahu kalau seorang dari kalian adalah keturunan dari pelayan Ciu keparat itu,” bentak salah seorang penunggang kuda itu.
    “Cepat berikan kepada kami atau nasib desa ini sama dengan desa-desa nelayan lainnya.”
    Kepala desa berkata, “Kami sungguh tidak tahu-menahu soal peta hartawan Ciu yang Tuan maksudkan. Tetapi soal desa-desa nelayan yang Tuan-tuan hancurkan…, kami telah mengetahuinya. Jadi kalau kalian tidak percaya pada kami, kami terpaksa berlaku tidak ramah kepada kalian semua.”
    “Baiklah, kalau itu yang kalian mau. Tapi ingat, kami tidak mengenal belas kasihan. Kawan-kawan, bersiaplah untuk melakukan penggeledahan,” kata orang yang berbadan tinggi besar itu.
    Dia sendiri telah menghunus golok besar dan mengangkatnya tinggi-tinggi. “Karena kalian berani menantang, kami berikan waktu untuk kalian mempersiapkan senjata. Ingat, jangan coba-coba melarikan diri karena… he he he… tidak ada gunanya,” sambungnya sambil tertawa mengejek.
    “Para wanita dan anak-anak silahkan masuk ke dalam rumah. Kunci pintu dan jangan ada yang keluar. Bapak-bapak sekalian, mari kita bela kehormatan kita dan desa ini sampai titik darah penghabisan,” kepala desa memberi perintah dan membangkitkan semangat para nelayan.
    “Baiklah, kita lawan sampai mati!” Bergemuruh teriakan para nelayan yang sudah menyadari bahwa tidak ada jalan lain kecuali melawan kelompok penunggang kuda tersebut.
    Maka berlangsunglah pertempuran yang tidak seimbang itu. Para penduduk desa mati-maian melawan dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Tetapi para penunggang kuda itu mempunyai ilmu silat yang hebat. Selang beberapa saat nampaklah mayat-mayat yang semuanya adalah penduduk desa. Beberapa orang yang masih hidup mulai runtuh semangatnya dan mengambil sikap untuk melarikan diri. Baru mereka membalikkan tubuh untuk lari, segera saja punggung mereka terasa sakit sekali dan kemudian tidak terasa apa-apa lagi, mati.
    Apakah pertempuran sudah selesai? Ternyata masih ada seorang yang melakukan perlawanan. Kepala desa itu pernah menjadi murid Shaolin dan dia melakukan perlawanan yang hebat. Tongkatnya diputar menurut jurus ilmu tongkat Lohan. Beberapa kali tongkat itu beradu dengan golok si penunggang kuda berbadan besar yang ternyata memiliki ilmu silat yang tinggi. Sambil berkelahi dia melihat ke sekelilingnya dan terlihatlah pemandangan yang sangat menyedihkan hatinya. Dia berusaha mengendalikan emosinya tetapi tidak dapat. Akhirnya permainan tongkatnya menjadi kacau.
    “Sudah, bunuh saja kepala desa itu. Sampai berapa lama lagi kamu akan mempermaikannya?” seru salah seorang penunggang kuda itu.
    “Ayo, cepatlah! Kita masih harus menggeledah desa ini!” teriak yang lain. Tercekat hati si kepala desa. Rupanya lawan belum mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Saking gusarnya dia menghantamkan tongkatnya ke depan. Tetapi lawan bergerak lebih cepat memotong gerakan tangganya. Si kepala desa menjadi kaget dan berusaha menarik kembali tangannya. Sayangnya gerakannya terlambat sehingga mengucurlah dara dari lengan yang terpapas buntung oleh golok itu. Si penunggang kuda tidak berhenti sampai di situ. Goloknya diteruskan ke depan untuk memenggal leher dari sang lawan. Sedetik kemudian darah menyembur dari leher yang sudah tidak berkepala lagi.
    Setelah mengalahkan kepala desa, berserulah ia, “Ayo, kita geledah desa ini! Bila bertemu manusia, langsung bunuh. Jangan buang-buang waktu, bos sudah sangat marah. Laksanakan segera!” Dia mendahului anak buahnya menghampiri rumah terdekat. Braak! Terdengar suara keras, pintu rumah itu ditendangnya hingga hancur berantakan. Tidak berapa lama terdengar bunyi pintu-pintu dihancurkan silih berganti diselingi dengan suara teriakan wanit dan anak-anak yang sangat menyayat hati orang yang mendengarnya. Tetapi bagi mereka itu sudah seperti suara musik yang merdu.
    Tanpa terasa satu jam telah berlalu. Semua rumah sudah selesai digeledah, tetapi peta itu tidak juga ditemukan.
    Akhirnya si pemimpin berkata, “Sudahlah, peta itu tidak ada di sini. Cepat kita bakar desa ini dan lapor ke bos.” Lima menit kemudian tampak asap tebal membubung tinggi dan lenyaplah desa nelayan yang damai itu. Hanya perahu-perahu saja yang menjadi saksi bisu kekejaman para penunggangg kuda itu.
    Last edited by mattmax00; 06-24-08 at 11:56 PM.

  2. #2
    Junior Member
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    22

    Default Ch 2

    Ch. 2
    Keserakahan manusia, seringkali dapat membuat manusia lupa akan sesamanya. Untuk mendapatkan kekayaan dan kemakmuran, manusia tidak segan-segan untuk memfitnah, menyakiti, bahkan membunuh sesamanya. Bialakah manusia dapat melihat bahwa sesamanya lebih berharga dibandingkan harta benda dan kekayaan? Bilakah manusia dapat hidup rukun dan saling membantu akan sesamanya?
    Seorang penunggan kuda berbaju putih membalapkan kudanya dengan cepat sekali menuju ke arah asap tebal tersebut.
    Dia menghela nafas, “Aku terlambat lagi. Mereka benar-benar kejam sekali. Apa sih yang mereka cari? Kenapa sampai membakar desa?” Tidak beberapa lama, tibalah dia di desa nelayan itu. Dengan perasaan terharu dia memandang mayat-mayat yang tergeletak. Tanpa terasa mulutnya bersajak:
    Angin bertiup dengan riang
    di pagi hari yang cerah
    Mentari bersinar lembut
    di pantai pasir yang indah
    Terbayang suasana tenang dan damai
    sepanjang pantai tepi laut
    Yang didapati suasana mengharukan
    mayat orang-orang tak berdosa

    Setelah perasaannya tenang kembali, dia memeriksa mayat-mayat itu. Kalau-kalau masih ada yang bernafas. Tiba-tiba dilihatnya ada tubuh yang masih bergerak dengan sangat lemah. Cepat-cepat orang itu menghampiri dan menempelkan tanganya ke punggung orang yang sudah sangat lemah itu. Perlahan-lahan matanya terbuka dan bibirnya bergerak-gerak.
    Orang berbaju putih itu segera mendekatkan telinganya dan dia mendengar suara yang lemah berkata, “Taihiap yang mulia, tolong keturunan pelayan Tuan Ciu. Dia ada di desa Ting-siu bun. Dia bernama Lui…” suaranya melemah hanya pandangan matanya mengharapkan jawaban dari tuan penolongnya itu. Si baju putih itu menjadi amat terharu dan segera menyanggupinya. Melihat itu pandangan matanya memancarkan terima kasih yang sangat dan dengan bibir tersenyum dia meninggal.
    Setelah meletakkan tubuh itu ke tanah, dia melanjutkan pemberiksaan dan didapatinya ada 128 mayat termasuk bayi yang belum genap setahun umurnya. “Benar-benar jahanam yang tidak berperikemanusiaan,” dia berkata seorang diri. “Sudah lebih dari sepuluh desa mengalami kemusnahan. Aku harus mencari dalangnya dan akan kuhentikan perbuatan jahat ini,” sambungnya sambil mengepalkan tangan.
    Emosinya tiba-tiba meluap, dia mencabung pedang yang tergantung dipinggangnya dan mulai mengayunkan pedangnya kesana kemari sehingga menimbulkan deru angin yang kuat. Orang akan berdecak kagum melihat keindahan ayunan pedang yang kuat itu. Memang dalam kegusarannya orang berbaju putih itu telah memainkan ilmu pedang yang sangat hebat yang disebut ilmu pedang Penakluk Angin sebanyak 25 jurus dengan perubahan yang sangat banyak.
    Setelah puas menunmpahkan emosinya ke dalam permainan pedang, dia mulai membuat lubang yang besar dengan pedangnya untuk mengubur mayat-mayat itu. Satu persatu dimasukkan ke dalam lubang dengan hati-hati sambil berkata, “Siancai, siancai.”
    Dua jam berlalu dan setelah menutup kembali lubang itu, si baju putih memberikan penghormatan sekali lagi lalu menghampiri kudanya dan memacu dengan cepat sekali.
    Penunggang kuda berbaju putih itu adalah Hok Wei Nan, pendekar yang terkenan di dunia persilatan. Dia berusia hampir 40 tahun tetapi masih kelihatan cakap dan gagah. Kesukaannya memakan baju putih dan pedang yang tidak pernah berpisah dari pinggangnya membuat dia dijuluki Pek I Kiamhiap (pendekar pedang berbaju putih). Orang-orang dari kalangan Pek To (golongan putih) maupun Hek To (golongan hitam) sangat menghormatinya karena dia selalu adil, membela kebenaran, dan memberi kesempatan ertobat bagi para penjahat. Wei Nan tidak mempunyai keluarga, saudara seperguruan, ataupun murid. Gurunya adalah seorang pengembara sakti yang menciptakan ilamu pedang yang memiliki banyak perubahan menurut jenis senjata lawan. Pengembara ini dijluki Hok Hong Koayjin (orang tua aneh penakluk angin).
    Diatas kudanya, Wei Nan berpikir keras. Setelah beberapa bulan ini dia menyelidiki akan musnahnya beberapa desa nelayan secara berturut-turut dan sangat aneh itu, baru sekarang didapatinya sedikit titk terang. Pemusnahan ini bukan suatu kebetulan saja tetapi ada yang mengatur dari belakang layar. Dan ini ada hubungannya dengan pelayan keluarga Ciu. Apakah yang dimaksud adalah hartawan Ciu yang diberitakan memiliki harta benda yang melebihi kepunyaan Kaisar sendiri? Teringatlah Wei Nan akan peristiwa hebat yang terjadi puluhan tahun yang lalu.

  3. #3
    Junior Member
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    22

    Default Ch 3

    Ch. 3
    Dua ratus tahun yang lalu, hiduplah seorang bernama Ciu Po Tin. Po Tin adalah seorang yang gagah berani, memiliki kegemaran akan benda-benda mustika. Di masa mudanya pernah dia menyerbu kelompok penjahat yang bermarkas di gugung Lok San karena mendengar bahwa mereka memiliki sebuah mustika kuda giok yang memancarkan cahaya terang sekali waktu malam. Juga Po Tin pernah pergi ke pulau kecil tak bernama yang dihuni oleh mahluk buas dan sangat mengerikan untuk sebuah mustika naga berwarna kebiru-biruan buatan seroang sakti dari batu giok yang hanya ada di pulau tersebut. Masih banyak lagi musti yang dia kumpulkan, tentunya dengan perjuangan yang tidak mudah pula.
    Kegemarannya akan benda-benda mustika menurun kepada anaknya, Gok An. Sehingga semakin banyak saja benda mustika yang dimiliki keluarga Ciu, dari benda hiasan sampai senjata pusaka. Berita ini cepat tersebar di kalangan persilatan. Banyak yang ingin memilikinya, tetapi keluarga Ciu tidak mau menjualnya sehingga timbullah gangguan-gangguan dari golongan putih sampai golongan hitam. Untung keluarga Ciu memiliki ilmu silat yang hebat, juga pelayan-pelayan yang setia. Pelayan-pelayan ini sudah seperti pengawal pribadi saja karena dilatih ilmu silat yang tinggi oleh Ciu Po Tin.
    Pelayan kepercayaan keluarga Ciu ada empat orang, diangkat oleh Po Tin pada pengembaraannya mencari mustika. Masing-masing diberi nama sesuai daerah dimana Po Tin menemukannya., yaitu Lui Pak (Lui si Utara), Yo Lam (Yo si Selatan), Siu See (Siu si Barat), dan Hui Thong (Hui si Timur). Mereka masing-masing mempunyai satu orang keturunan berumur hampir sama dengan Gok An, sehingga anak-anak mereka sudah seperti saudara dengan Gok An, dan memang Po Tin tidak membedakan antara dia dan anak keempat pelayannya itu.
    Anak Gok An, Tian Sin, tidak begitu senang dengan barang mustika melainkan harta benda dan perhiasan. Pada masa Tian Sin semakin terkenallah keluarga Ciu sebagai keluarga yang kaya raya. Sayangnya anak dari Tian Sin, Kong Bin, memiliki tubuh yang lemah sehingga tidak dapat memplajarai ilmu silat yang tinggi. Suatu hari ketika Tian Sin pergi ke gunung Co-san untuk menumpas perkumpulan penjahat Co-san Pang, dia bertemu dengan seorang pengembara. Karena memiliki watak suka bergaul, maka Tian Sin segera bersahabat dengan pengembara itu yang sudah lupa akan namanya. Sebelum berpisah, si pengembara memberikan nasehat supaya Tian Sin berhati-hati karena dia melihat baying gelap di muka Tian Sin.
    Setelah menyelesikan urusannya di gunung Co-san, dia kembali ke rumah. Di rumah Tian Sin ingat akan ucapan si pengembara dan dia merenungkannya. Melihat ada yang tidak beres pada tuanya, keempat pelayan menanyakan ada masalah apa sepulang dari gunung Co-san. Karena hubungan mereka sudah seperti saudara, makan Tian sin tidak ragu-ragu untuk membeberkan pernyataan si pengembara itu. Lui Pak menyarankan untuk mengindahkan peringatan itu dan berhati-hati. Siu See menyatakan hal yang sama, dia juga mengingatkan bahwa kekuataan mereka sudah menurun, lagipula anak-anak mereka tidak memiliki bakat untuk belajar ilmu silat yang tinggi.
    Yo Lam mengusulkan untuk menyembunyikan seluruh harta karun milik keluarga Ciu di suatu tempat yang aman. Tian Sin teringat akan suatu tempat dan mengutarakannya kepada yang lain. Keempat pelayan setuju dan mereka mulai memindahkan harta karun itu. Selesai memindahkannya, dibuatlah suatu peta dan disimpan oleh Tian Sin sendiri. Tian Sin sebenarnya kurang setuju, dia ingin peta itu dibagi-bagi dan disimpan oleh mereka masing-masing satu bagian, tetapi keempat pelayan menolaknya.

  4. #4
    Senior Member Sillyana's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Posts
    318

    Talking

    Rahasia Peta Harta Karun is title film?? who is starring this film?? or this is only story?? why u make indonesian language?? ceritanya sangat bagus

  5. #5
    Senior Member kidd's Avatar
    Join Date
    Nov 2002
    Location
    Somewhere Out There
    Posts
    13,076

    Default

    An indonesian language fanfiction. Cool.
    什麼是朋友?朋友永遠是在你犯下不可原諒錯誤的時候,仍舊站在你那邊的笨蛋。~ 王亞瑟

    和諧唔係一百個人講同一番話,係一百個人有一百句唔同嘅說話,而又互相尊重 ~ - 葉梓恩

  6. #6
    Junior Member
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    22

    Default

    it's my own story, i make it influenced by Asmaraman Kho Ping Ho stories.
    sorry, i'm not used to english, anybody want to translate it to english?

  7. #7
    Senior Member HuangYushi's Avatar
    Join Date
    Jan 2005
    Location
    Under a pile of work ....
    Posts
    1,637

    Default

    Quote Originally Posted by kidd View Post
    An indonesian language fanfiction. Cool.
    I agree, I agree!

    Quote Originally Posted by mattmax00 View Post
    it's my own story, i make it influenced by Asmaraman Kho Ping Ho stories. sorry, i'm not used to english, anybody want to translate it to english?
    Don't apologise. Bagus sekiranya kamu menggunakan bahasa yang kamu sudah biasa. Teruskan karangan kamu, kerana di sini, ramai juga pembaca yang faham Bahasa Indonesia/Melayu.

    HYS
    Jin Yong's Ode to Gallantry [侠客行].
    Quote Originally Posted by atlantean0208
    what about SPT, I need my SPT fix ASAP, pretty pleaseeeee...
    Soon ... SOON!

  8. #8
    Senior Member Sillyana's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Posts
    318

    Talking

    the story Pay Dirt map secret is very long. I can't translate because no time
    If you want to translate in english, u can narrate nucleus story so that briefer oc

  9. #9
    Senior Member Sillyana's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Posts
    318

    Post

    Quote Originally Posted by HuangYushi View Post
    I agree, I agree!


    Don't apologise. Bagus sekiranya kamu menggunakan bahasa yang kamu sudah biasa. Teruskan karangan kamu, kerana di sini, ramai juga pembaca yang faham Bahasa Indonesia/Melayu.

    HYS
    Yes, I agree with u, that story is very interesting

  10. #10
    Junior Member
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    22

    Default

    ok, ch. 4 coming soon.

  11. #11
    Junior Member
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    22

    Default Ch 4

    Ch. 4
    Sementara itu suatu kekuataan yang besar muncul di daerah utara, dikepalai seorang tokoh misterius yang berjuluk Hek Liong Sian (Dewa Naga Hitam) karena sepak terjangnya seperti naga sakti yang tidak terlihat kepalanya Hek Lion Sian memiliki anak buah yang rata-rata berkepandaian tinggi. Seperti orang-orang lain, dia juga tergiur untuk memiliki hara karun keluarga Ciu, terutama senjata-senjata pusaka. Setelah menyelidiki dengan seksama kekuatan keluaraga Ciu, akhirnya dia memutuskan untuk menyerang. Disiapkannya semua anak buahnya untuk penyerangan tiba-tiba.
    Keluarga Ciu kaget atas penyerangan yang tiba-tiba itu, banyak pengawal yang menjadi korban. Tian Sin cepat mengumpulkan empat pelayan dan dia merobek peta menjadi empat bagian dan diberikan kepada mereka masing-masing sebuah. Keempat pelayan mencoba menolak dan meminta Tian Sin pergi bersama keluarganya.
    Tetapi Tian Sin berkata, “Aku tidak mau pergi meninggalkan rumah ini. Aku dan keluargaku akan mempertahankannya sampai titik darah terakhir. Kalian cepatlah pergi. Bawa anak kalian serta.”
    Serentak keempat pelayan menjatuhkan diri dan berkata, “Kami akan bersama Tuan sampai mati.”
    “Aku hargai kesetiaan kalian semua. Tetapi kalau kita semua mati di tempat ini, siapa ayng akan menjaga harta itu? Sudahkan kalian pergi dan gunakan harta itu untuk kesejahteraan rakyat miskin,” Tian Sin mendesak.
    Keempat pelayan saling memandang kemudian seperti sepakat pergi membawa anak mereka melalui jalan rahasia. Tian Sin melihat dengan pandangan mata terharu dan segera menghunus pedangnya. Kong Bin yang baru berusia tiga belas tahun itu terbangkit semangatnya dan mengikuti sang ayah mencabut pedangnya yang jarang dipakai. Tian Sin sangat bangga melihat sikap anak tunggalnya. Ia memandang kepada anaknya dan dengan tersenyum berkata, “Mari kita pertahankan kehormatan keluarga Ciu sampai titik darah penghabisan.”
    “Suamiku, kita bela nama baik keluarga kita bersama-sama,” sahut sang istri sambil menghunus pedang pula.
    Tian Sin memimpin keluarganya keluar rumah dan berteriak dengan suara keras,”Hek Liong Sian, akulah lawanmu. Kalau berani, majulah!”
    Menyambut teriakan tersebut, majulah empat orang berpakaian hitam mengurung Tian Sin. Seorang diantaranya berkata,”Tidak perlu ketua kami menghunus pedang untuk menghabisi tikus sepertimu.”
    Mulailah pertempuran antara Tian Sin dan keempat anak buah Hek Liong Sian. Tian Sin memutar pedang, memainkan jurus pedang keluarga Ciu. Jurus pedang yang mengutamakan kekuatan. Jurus-jurusnya sangat menguras tenaga pemakainya. Tetapi Tian Sin adalah seorang yang sangat hebat, dia digembleng langsung oleh kakeknya, Po Tin, sehingga tenaganya seperti pusaran air saja, semakin lama semakin kuat.
    Keempat pengeroyoknya kewalahan, padahal mereka sudah membentuk barisan pedang Naga Hitam (Hek Liong tin), tin kebanggaan Hek Liong Sian. Bahkan semakin lama gerakan mereka semakin tidak teratur. Di lain pihak, Tian Sin semakin gagah. Pedangnya menekan barisan pedang para pengeroyoknya. Sepertinya kemenangan sudah di depan mata. Dua jurus kemudian salah seorang pengeroyoknya terpental keluar, mati.
    Melihat itu, majulah seorang berperawakan tinggi besar, mengenakan jubah kuning yang bersulamkan naga hitam di bagian belakangnya. Dialah Hek Liong Sian, tokoh misterius yang menggegerkan dunia persilatan karena sepak terjangnya yang sangat tidak berperikemanusiaan. “Dasar orang-orang bodoh. Membunuh satu orang saja tidak bisa. Sudah, kalian bereskan saja anak dan istrinya. Biar aku yang membunuhnya.”
    Maka bergeraklah ketiga orang itu dan mulai menyerang Kong Bin dan ibunya. Kedua orang yang diserang itu tidak tinggal diam. Mereka segera balas menyerang sehingga terjadilah pertempuran yang seru diantara mereka.
    Hek Liong Sian bergerak dengan santai menghampiri Tian Sin. “Jurus pedang yang hebat. Andai saja kakekmu yang memainkannya, maka aku harus bersungguh-sungguh menghadapinya. Kalau untuk menghadapimu sih, hahahahaha.”
    “Baik, kita lihat saja,” Tian Sin menanggapi dengan tenang. “Silahkan mulai.”
    Hek Liong Sian mengeluarkan senjatanya. Bentuknya aneh, pedang dengan ujungnya berbentuk kaitan yang sangat tajam. Tanpa berkata-kata lagi dia langsung menyerang. Ternyata kaitan itu berfungsi seperti cakar naga yang siap mengoyak-ngoyak tubuh mangsanya.
    Tian Sin sendiri bukan seorang pendekar yang lemah. Dia balas menyerang dan terjadilah pertarungan yang seru antara mereka berdua.
    Awalnya Tian Sin dapat mengimbangi permainan pedang lawannya. Tetapi sayang, perhatiannya mulai terpecah karena dia mendengar teriakan dari Kong Bin. Rupanya Kong Bin terkena sabetan pedang dari lawannya. Gerakan pedangnya menjadi bertambah kacau. Melihat anaknya terluka, Tian Sin menjadi kalap. Dia menyerang dengan cepat dan ganas dengan maksud menekan lawannya sehingga dia dapat menyerang pengeroyok-pengeroyok anak dan istrinya.
    Hek Liong Sian menahan serangan-serangan tersebut dengan santai. Dia tetap mengikat Tian Sin dengan gulungan pedangnya. Tian Sin semakin kacau serangannya tatkala dia mendengar jeritan sang istri. Gulungan pedangnya menjadi tidak beraturan. Lawannya tertawa dan mulai melancarkan serangan untuk menaklukkan Tian Sin. Dia tidak bermaksud untuk membunuh, hanya ingin menawan Tian Sin dan keluarganya saja.
    Akhirnya sebuah tusukan ke dada Tian Sin mengakhiri perlawanannya. Dia tertotok dan terkulai lemas. “Bawa kemari istri dan anaknya. Hahahaha, ternyata lebih mudah dari yang kubayangkan. Ternyata begini saja ilmu pedang keluarga Ciu yang tersohor itu. Hahahaha ….,” Hek Liong Sian tertawa senang.
    Ketiga tawanan itu dipaksa berlutut di depan Hek Liong Sian. Tian Sin melihat keadaan istri dan anaknya. Hatinya sangat hancur. Istrinya bunting tangan kanannya, sedangkan anaknya mengalami luka sabetan di bagian dada dan pundak kirinya terbacok cukup dalam. Dia sendiri tidak mengalami luka yang berat. Itu dikarenakan lawannya memang jauh lebih lihai dibandingkan dirinya.
    “Hartawan Ciu, kau sudah kalah total. Aku berikan jalan hidup untukmu dan keluargamu asal kau memberitahukan dimana lokasi penyimpanan harta benda yang kau miliki. Kalau tidak ….!” Hek Liong Sian membuka penawaran.
    Tian Sin tidak menghiraukan perkataan tersebut. Sebaliknya dia menatap istri dan anaknya dan berkata, ”Kalian rela harta benda kita disalah gunakan oleh gerombolan penjahat ini?”
    Istrinya menyahut, “Suamiku, Gok An kong-kong pernah berkata ‘Nama baik dan kehormatan boleh dihina, tetapi keadilan dan kebenaran tidak boleh dijual.” Lalu dia menoleh ke arah Kong Bin dan tersenyum, “Nak, ibu sangat sayang kepadamu.” Dan dia menatap suaminya sambil tersenyum, sedetik kemudian darah mengalir dari mulutnya dan perempuan itu jatuh ke tanah.
    “Istriku!”
    “Ibu!”
    “Kurang ajar!” teriak Hek Liong Sian. Mukanya merah padam. Tetapi sambil dia berteriak, tangannya bergerak sangat cepat meremas mulut Tian Sin dan menotok pingsan Kong Bin. “Aku kalah dari wanita ini! Kalian kubur dia baik-baik, dia adalah seorang wanita yang sangat kuhormati.”
    Tian Sin terharu melihat istrinya bunuh diri supaya tidak dapat digunakan untuk memeras dirinya. “Bunuh saja kami sekeluarga. Jawaban dari istriku sudah mewakili jawabanku.”
    “Bicara bunuh memang mudah. Hek-ji, ikat mulut anak itu. Jangan sampai dia menggigit lidahnya sendiri.” Setelah selesai mulut Kong Bin diikat, Hek Liong Sian menotok sadar anak itu dan menatap dia. “Nak, dimana tempat ayahmu menyimpan harta bendanya?”
    Kong Bin, walaupun berbadan lemah tapi dia seorang yang berani. Alih-alih takut, dia malah menantang, “Bunuh saja aku. Kalian orang-orang jahat tidak akan mendapat sedikitpun dari harta benda kepunyaan ayah.”
    Hek Liong Sian hanya membalasnya dengan tertawa terbahak-bahak. “Tian Sin, kutanya sekali lagi dimana tempatnya?!”
    Tian Sin diam seribu bahasa.
    “Baiklah.” Dia menjentikkan jarinya ke ibu jari tangan kanan Kong Bin. Kong Bin berteriak kesakitan, dan saat dilihat tangan kanannya, tampak ibu jarinya sudah tidak ada lagi. Tian Sin diam saja, di dalam hatinya dia menangis.
    “Tian Sin! Dimana tempatnya?!” Sambil bertanya, tangannya bekerja juga. Kali ini ibu jari kiri yang menjadi sasaran. Kembali terdengar teriakan Kong Bin.
    Tian Sin tetap diam.
    “Kau benar-benar tidak sayang pada anakmu?!” Jarinya menjentik kedua telinga Kong Bin. Sedetik kemudian dua potong daun telinga melayang jatuh ke tanah. Kong Bin menjerit-jerit kesakitan.
    Tian Sin tetap diam seribu bahasa.
    “Hek-sam, buka celana anak itu! Aku akan buat anak itu jadi kasim, hahaha ….”
    Kong Bin menjerit-jerit ketakutan. “Jangan lakukan itu. Bunuh saja aku. Bunuh saja aku hei penjahat!”
    “Bagaimana Tian Sin? Masih mengeraskan hati? Baiklah. Nak, ayahmu ingin kau menjadi kasim. Hahaha ….” Hek Liong Sian sengaja memutar-mutar jarinya di sekitar kemaluan sang anak.
    Kong Bin sangat ketakutan, sampai-sampai dia mengeluarkan air mata. Para anak buah Hek Liong Sian terbahak-bahak menertawakan Kong Bin.
    “Ayo nak, menangis lebih keras. Anak perempuan memang harus menangis.”
    “Kau memang cocoknya menangis. Hahaha ….”
    “Lihat, dia makin cantik kalau menangis.”
    Mendengar ejekan orang-orang, Kong Bin tidak dapat lagi menguasai emosinya. Dia menangis tersedu-sedu. Harga dirinya sebagai seorang laki-laki hancur. Yang diinginkannya adalah dia selamat.
    Melihat kejadian itu, hancurlah hati Tian Sin. Ternyata anaknya tidak tahan menghadapi siksaan. Menyesallah dia dulu kurang keras mendidik Kong Bin karena tabib mengatakan bahwa tubuh anak ini lemah, mudah sakit sehingga agak dimanjakan.
    Akhirnya dia mengambil keputusan untuk membunuh sendiri anaknya kalau ada kesempatan. “Baiklah, aku akan menunjukkan tempatnya. Tetapi bebaskan anakku. Kau pegang ucapanku!”
    “Kata-kata hartawan Ciu dapat dipegang. Hek-sam, pakaikan baju wanita ke anak itu lalu lepaskan dia. Hahaha ….”
    Hek-sam segera membawa Kong Bin ke dalam rumah dan menyuruh salah seorang pelayan untuk mendandani Kong Bin. Setelah selesai, anak itu segera berlari keluar rumah tanpa ingat lagi ayahnya. Yang ada di otaknya hanyalah lari menyelamatkan diri sendiri. Tian Sin berjanji dalam hati kalau dia dapat meloloskan diri Kong Bin akan dicari dan dibunuh oleh tangannya sendiri.
    “Ayo kita berangkat saudara-saudara,” Hek Liong Sian memberi komando. “Hek-ji, kau dan beberapa saudara tetap tinggal disini urus pemakaman wanita itu lalu tunggu kami di markas.” Sambil berpesan, tangannya bergerak memberikan perintah rahasia.
    “Siap Bos,” sahut Hek-ji dan mulai melakukan persiapan untuk pemakaman. Seluruh pelayan di rumah itu ikut membantu persiapan pemakaman tanpa mengetahui bahwa setelah itu mereka akan dibunuh semua dan bangunannya dibakar habis.

  12. #12
    Junior Member
    Join Date
    Jul 2008
    Posts
    11

    Thumbs up

    Keren 2x !!

    Keep it coming bro!!

  13. #13
    Senior Member Sillyana's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Posts
    318

    Post

    Quote Originally Posted by .:mich:. View Post
    Keren 2x !!

    Keep it coming bro!!
    Yes, I agree with u. the story is very good. But its. better if the story use English language because not all people in this forum can read

  14. #14
    Junior Member
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    22

    Default

    Quote Originally Posted by Sillyana View Post
    Yes, I agree with u. the story is very good. But its. better if the story use English language because not all people in this forum can read

    any1 help me with the translation?

  15. #15
    Junior Member
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    22

    Default Ch. 5

    Ch. 5
    “Ayo, kalian bekerja lebih cepat lagi. Matahari sudah hampir tenggelam”, Hek-ji sudah tidak sabar lagi. Sudah setengah harian dia menunggu pelayan-pelayan Tian Sin melakukan persiapan penguburan untuk nyonya mereka. Karena sedih, maka persiapannya menjadi sangat lambat.
    Kira-kira sepeminum teh lewat, selesailah semua persiapan penguburan istri hartawan Ciu. Hek-ji tersenyum puas. ’Waktunya pembantaian’, pikirnya. Dia bangkit berdiri dan berjalan keluar rumah. Sesampainya di luar, dia terkejut sekali. Semua anak buahnya sudah diikat dan dikumpulkan di sekeliling kuburan nyonya Ciu. Empat orang gagah berdiri di hadapannya.
    ”Siapa kalian?!!!” sergahnya. ”Berani-beraninya kalian menentang kami, Hek Liong Pang!”
    Seorang dari mereka maju selangkah dan berkata,”Seharusnya kami yang bertanya kepadamu, budak hitam! Beraninya menyerang dalam jumlah besar. Sekarang majulah, kita bertarung satu lawan satu. Ketiga temanku tidak akan mengeroyok kamu.”
    ”HA HA HA, jadi kalian adalah keempat kacung pengecut dari hartawan Ciu. HA HA HA. Menghadapi pengecut macam kalian tidak perlu satu persatu. Majulah kalian semua”, Hek-ji menghunus siang-kiamnya dan langsung menyerang orang di hadapannya.
    Yang diserang hanya tertawa-tawa saja. ”Kucing kalau sudah terdesak akan berpura-pura galak padahal di dalam hatinya sangat ketakutan. Baiklah, aku Siu See dengan senang hati akan membereskanmu, ha ha ha.”
    ’Siu See, sudah 20 tahun belakangan namanya bergema di penjuru barat Tionggoan. Tinju 8 Penjuru miliknya tidak ada yang dapat melihat. Gerakannya lebih cepat dari setan. Wah, kali ini aku bisa celaka’, Hek-ji mengerutkan keningnya sambil memainkan jurus-jurus pedang andalannya.
    Keduanya terlibat pertarungan yang sepertinya tidak seimbang. Pedang melawan tinju. Tetapi bagi Hek-ji, tinju tersebut lebih berbahaya daripada pedang ataupun tombak. Perlahan-lahan gulungan sinar pedangnya mulai tidak teratur gerakannya. Di pihak lain, Siu See bergerak sesukanya sambil sesekali meninju ke depan. Setiap kali tinjunya melayang, maka tekanan yang dirasakan lawannya semakin berat. Kelihatannya 1 tinju, tetapi sebenarnya puluhan tinju yang mengarah ke bagian-bagian mematikan dari tubuh Hek-ji seperti tenggorokan, hati, jantung, dan pelipis.
    Teman-teman Siu See menonton dengan wajah bosan. Lui Pak akhirnya tak tahan lagi dan berteriak dengan suara nyaring,”Sobat Siu, mau sampai kapan kau bermain-main dengan tikus hitam ini. Ingat, kita harus mengejar rombongan mereka untuk menyelamatkan tuan kita!”
    Mendengar itu nyali Hek-ji seperti mau pecah. Dia sudah mati-matian memutar pedangnya, mencoba menyerang lawannya. Tetapi dikatakan bahwa lawannya belum sungguh-sungguh. Akhirnya,”HHHIIYYYYAAAAAAAAHHHH!!!!!!!” dengan mengempos seluruh sisa tenaganya dia memainkan jurus pamungkas ilmu pedang Yin-Yang yaitu ’Yin dan Yang bersatu’ jurus yang sangat menguras tenaga karena dua pedang yang berhawa panas dan dingin bergerak saling menyilang ke arah jantung sehingga lawan merasakan jantungnya sebentar panas sebentar dingin. Tetapi kalau tenaga yang dialirkan ke kedua pedang tersebut tidak sama besar maka itu justru akan menghantam balik ke pemiliknya melalui pembuluh-pembuluh darah pada tangan yang memegang pedang.
    Siu See juga sudah mulai bosan melayani permainan pedang Hek-ji. Dia mempersiapkan tinjunya dan di saat yang tepat, tinjunya bergerak ke 2 arah yang berlawanan.
    TRANG....TRANG.... terdengar suara logam susul menyusul mengenai tanah. Hek-ji sangat terkejut. Wajahnya menjadi pucat. Belum pulih dari kagetnya, dia merasakan seluruh tubuhnya menjadi lemas. Dia tersadar dan berusaha untuk menggigit lidahnya. Tetapi mulutnya tidak dapat digerakkan. Dia hanya dapat memelototi lawan-lawannya dengan muka merah padam.
    ”Sobat Yo, sekarang giliranmu”, Siu See tersenyum ke arah Yo Lam.
    ”Bagian yang tidak enak selalu kau berikan padaku”, Yo Lam balas tersenyum dan melangkah menghampiri Hek-ji yang sudah seperti tikus kecebur got. Sekujur tubuhnya basah oleh keringat.
    Yo Lam menotok telapak tangan Hek-ji lalu berkata,”Dibawa kemana tuanku? Cepat tulis di tanah.” Hek-ji diam saja.
    ”Aku tidak sesabar sobat Siu. Aku tanya sekali lagi, dibawa kemana tuanku?” Hek-ji tetap diam.
    ”Baiklah, kalau begitu.” Yo Lam menyentil bagian pelipis kiri Hek-ji perlahan. Sekejab saja Hek-ji merasakan seluruh giginya ngilu dan sakit, dan kedua telinganya seperti ditusuk-tusuk duri.
    Hek-ji tak tahan atas siksaan itu. Buru-buru dia menuliskan sesuatu di tanah.
    ’TIMUR’
    Yo Lam tersenyum puas. Dia memijat bagian belakang telinga kanan Hek-ji. Lalu berkata,”Anak tuanku ikut mereka atau ...”
    ’SELATAN’ tulis Hek-ji.
    ”Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya”, ia menyentil pelipis kanan tawanannya. ”Sampai jumpa di akherat, ha ha ha.”
    Hek-ji dibunuh tanpa dia bisa mengucapkan sepatah katapun. Ganjaran yang sesuai bagi dirinya.
    ”Kalian semua tolong bereskan teman-teman dari tikus hitam ini. Kami berempat akan menyusul rombongan mereka dan berusaha untuk membebaskan Tuan”, Lui Pak mengambil alih komando dan memerintahkan para pelayan untuk membereskan urusan di rumah. Lalu ia mendekati seorang pelayan dan meminta dia agar pergi mencari Kong Bin. Sang pelayan mengangguk dan langsung bergerak ke arah selatan.
    Keempat pelayan melakukan upacara penghormatan terakhir terhadap Nyonya Ciu. Selesai melakukan penghormatan mereka langsung bergerak ke arah timur, sesuai dengan yang dituliskan Hek-ji sebelum mati.

  16. #16
    Junior Member
    Join Date
    Sep 2008
    Posts
    1

    Wink muahahahaha

    pak" kcian amad...
    ga ad yg mw translate krna kepanjangan...

    peace.. btw, aq males bcnya... kepnjangan...
    wkwkwk, cuma liad skilas doank... males...
    hehhe
    yg pndkar angin aq lyad skilas.. awalannya aneh, gje, ga jelas maksudnya...

    peace...

    "Yope!~" wkkwkwk... (ga maqsa koQ...)

    -yoUr stuDenT (guEss wHo!~)

  17. #17
    Senior Member Sillyana's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Posts
    318

    Talking

    Quote Originally Posted by me2906 View Post
    pak" kcian amad...
    ga ad yg mw translate krna kepanjangan...

    peace.. btw, aq males bcnya... kepnjangan...
    wkwkwk, cuma liad skilas doank... males...
    hehhe
    yg pndkar angin aq lyad skilas.. awalannya aneh, gje, ga jelas maksudnya...

    peace...

    "Yope!~" wkkwkwk... (ga maqsa koQ...)

    -yoUr stuDenT (guEss wHo!~)
    hahahaha bisa aja loe

  18. #18
    Junior Member
    Join Date
    Jun 2008
    Posts
    22

    Default Ch. 6

    Ch. 6
    Itulah legenda yang beredar sampai sekarang. Cerita tentang bagaimana keempat pelayan hartawan Ciu mengejar rombongan Hek Liong Sian tidak pernah terungkap. Juga mengenai pelayan rumah keluarga Ciu yang mencari Kong Bin juga seperti lenyap ditelan kegelapan. Sisa dari cerita penyerangan kediaman keluarga Ciu hanya dapat didengar dari para pelayan rumah yang setelah membersihkan mayat-mayat anak buah Hek Liong Sian juga berpencar satu sama lain.
    Satu hal yang dapat dicatat sejarah adalah bubarnya Hek Liong Pang tidak lama setelah penyerangan yang menghebohkan tersebut. Para penjahat yang semula takluk terhadap Hek Liong Sian mulai tercerai-berai karena pemimpinnya tidak pernah kembali.
    Mengenang peristiwa berdarah 80 tahun yang lalu membuat Hok Wei Nan menghela nafas. Betapa serakahnya manusia. Demi setumpuk harta dan benda-benda mustika sampai tega membunuh sesama manusia.
    Pek I Kiamhiap mulai bersajak,
    Dunia persilatan yang kacau
    Golongan putih dan golongan hitam
    Sama-sama memendam jiwa serakah
    Gelap mata karena harta benda
    Tidak ada lagi benar dan salah
    Yang ada adalah ketamakan
    Menang tidak menjadi bahagia
    Kalah tidak menjadi kesedihan
    Dua kubu saling menyerang
    Tidak menghiraukan nyawa manusia
    Korban berjatuhan dari kedua pihak
    Yang sedih keluarga yang ditinggalkan
    Delapan puluh tahun berlalu, legenda tentang kekayaan keluarga Ciu tetap menjadi impian para petualang dunia persilatan. Perkumpulan-perkumpulan baik dari golongan hitam maupun putih masih menyelidiki jejak dari keempat pelayan hartawan Ciu. Golongan putih secara sembunyi-sembunyi mengutus murid-murid terbaiknya untuk melacak keberadaan keturunan dari keempat pelayan tersebut.
    Golongan hitam lebih terang-terangan melakukan penyelidikan. Mereka tidak segan-segan membantai orang-orang desa yang diduga tempat kelahiran dari para pelayan keluarga Ciu. Bukan hanya desa kelahiran empat pelayan kepercayaan hartawan Ciu saja, tetapi juga desa kelahiran pelayan-pelayan rumah tangga keluarga Ciu yang rata-rata tidak memiliki ilmu silat. Selama 80 tahun ini sudah tidak terhitung berapa banyak nyawa manusia hilang percuma karena keserakahan akan harta. Pembantaian-pembantaian dilakukan terus-menerus tidak hanya dari satu atau dua perkumpulan saja tetapi dari banyak perkumpulan. Bahkan tidak jarang pula antara perkumpulan yang satu dengan yang lain bentrok.
    Yang lebih menyedihkan lagi adalah ikut sertanya kerajaan dalam perburuan harta benda keluarga Ciu. Mereka bukan melindungi penduduk tetapi ikut serta dalam pembantaian penduduk. Sudah menjadi rahasia umum bahwa sudah 30 tahun lebih kerajaan mengutus beberapa jendral kepercayaannya untuk menyamar menjadi perkumpulan-perkumpulan dunia persilatan. Kepada siapa lagi rakyat harus berlindung?
    Bersyukurlah bahwa selama 80 tahun ini masih ada beberapa petualang dunia persilatan yang berjiwa seperti Hok Wei Nan. Mereka berhasil melindungi beberapa desa dari pembantaian orang-orang serakah. Desa yang berhasil dilindungi para pendekar tersebut pemuda-pemudanya dilatih ilmu bela diri oleh sang pendekar. Tetapi itu hanya mengurangi sebagian kecil saja dari nyawa-nyawa yang hilang akibat pembantaian yang tidak berperikemanusiaan. Bahkan tidak jarang pula para pendekar itu ikut berkorban nyawa membela penduduk desa.
    Tanpa terasa hari sudah menjelang sore. Wei Nan mulai memperlambat kudanya. Matanya mulai melihat sekeliling untuk mencari penginapan. Dia adalah seorang petualang dunia persilatan. Baginya tidur di alam terbuka atau di dalam rumah sama saja. Tetapi hari ini dia merasa baik tubuh maupun mentalnya sangat lelah. Dia ingin tidur di tempat yang nyaman.
    Di kejauhan dilihatnya ada asap tipis membubung ke langit.
    ’Nah, ini dia sebuah penginapan untukku beristirahat’, pikirnya. ’Mandi air hangat, menyantap hidangan, lalu tidur. Betapa menyenangkan mengakhiri hari ini’, ia tersenyum puas.
    ”Hai sobat”, ia membungkuk kepada kudanya. ”Bagimu juga akan disediakan makanan enak. Bagaimana kalau kita langsung kesana?”
    Kuda itu meringkik seperti mengiyakan tuannya lalu melangkah dengan cepat ke arah asap tersebut. Wei Nan sama sekali tidak menduga ia akan mengalami kejadian yang jauh berbeda dari khayalannya.
    Setelah melalui setengah perjalanan baru terlihat asal dari asap tersebut. Ternyata asap berasal dari perkemahan kecil di tengah-tengah padang rumput yang sepi. Samar-samar dilihat Wei Nan ada belasan bayangan manusia duduk mengelilingi api unggun. Hatinya menjadi kaget karena di dekat api unggun tersebut ada bayangan manusia yang terikat di tiang pancang.
    ’Ada gerombolan penjahat rupanya. Hari ini aku memang ditakdirkan untuk tidak dapat beristirahat dengan tenang rupanya’, pikirnya sambil tersenyum. ”Sobat, (menepuk leher kudanya} ada pekerjaan lagi yang harus kita selesaikan”, dia berkata pada kudanya.
    Setelah dekat perkemahan, Wei Nan turun dari kudanya dan bergerak mendekat. Gerak-geriknya sangat hati-hati karena dia tidak ingin gegabah. Hatinya menjadi heran karena ternyata yang disangkanya gerombolan penjahat itu adalah para biksu Shaolin dan yang terikat di tengah-tengah lingkaran adalah seorang wanita yang masih muda usia. Melihat pemandangan yang aneh itu Wei Nan menjadi semakin berhati-hati. Dia tidak mau langsung menampakkan diri seperti yang biasa dia lakukan kalau bertemu gerombolan penjahat. Kali ini dia memilih untuk mendengarkan percakapan mereka dan menyelidiki gerak-gerik mereka.
    ”Berikan daging babi itu padaku”, salah seorang dari biksu itu berkata.
    ”Omitohud. Bukankah biksu tidak makan daging?” temannya menyahut dengan suara mengejek.
    ”Biksu keparat. Kamu sendiri sedang minum arak, berani melarang aku makan daging?” suara biksu yang pertama itu meninggi. Rupanya dia sudah dipengaruhi arak.
    ”Hua...ha...ha... biksu apanya? Apakah kepala gundul dan jubah biksu ini bisa membuat kita jadi biksu dan pantang makan daging dan minum arak? Hua...ha...ha...” seorang biksu yang bertubuh besar tertawa keras-keras. ”Ayo, jangan mempersoalkan biksu atau bukan. Kita pesta sampai puas.”
    ”Benar katamu teman. Kita berpesta sampai pagi,” sahut yang lain. ”Mari... mari... siapa yang mau adu minum arak denganku? Ayo, kuberi 100 tael kalau aku kalah, ha... ha... ha...”
    ”Kamu minum saja sendiri. Aku sedang menikmati pemandangan indah,” kata biksu di sebelahnya.
    ”Pemandangan indah apaan? Padag rumput begini dibilang indah. Payah kamu, baru minum satu botol saja sudah mabuk,” jawabnya sambil mencibir.
    ”Bukan itu maksudku. Tetapi aku sedang menikmati keindahan tawanan kita,” jawabnya. ”Ah......indahnya. Kulitnya... pinggangnya... dadanya...” tanpa terasa air liurnya menetes.
    ”Hua... Ha... Ha... ” teman-temannya tertawa terbahak-bahak.
    ”Dasar mesum. Melihat gadis yang diikat saja bisa sampai meneteskan air liur,” kata biksu yang pertama.
    ”Aku punya ide bagus. Bagaimana kalau kita suruh dia menari saja? Sambil menari, dia melepaskan bajunya satu-persatu. Ha... ha... ha... ” seorang dari biksu angkat bicara dan bangkit berdiri menuju ke tempat gadis itu terikat.
    Darah Wei Nan naik sampai ubun-ubun kepala. Dia sangat marah melihat kelakuan biksu-biksu yang tidak pantang daging, minum arak, dan melakukan perbuatan mesum terhadap wanita. Pedang sudah dihunus, pada saat dia akan keluar dari persembunyiannya seorang dari biksu itu bergerak menghampiri tempat gadis itu dengan gerakan yang berwibawa. Wei Nan menahan diri. Dia merasa ada sesuatu yang ganjil pada perilaku orang tersebut.
    ”Cukup A Hok. Kembali ke tempatmu!” bentak orang tersebut. Yang disebut A Hok tiba-tiba berubah sikapnya. Dengan cepat dia membalikkan badan, berjalan kembali ketempatnya.
    “Kita sedang melakukan tugas. Ingat, dia adalah tawanan penting. Kita jangan sampai melalaikan tugas kita. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada tawanan kita?” dengan suara tegas dan berwibawa orang yang ternyata adalah pimpinan dari kelompok biksu itu memperingatkan anak buahnya.
    ”Siap komandan!” seluruh biksu langsung berubah sikap.
    ”Jangan membuat orang curiga kepada kita. Ingat, sekarang kita adalah biksu. Bersikaplah seperti layaknya biksu. Cepat selesaikan makan kalian, istirahat. A Gui dan A Bin, kalian yang tugas jaga malam ini. Kalau terjadi sesuatu pada tawanan kita, kupastikan kepala kalian akan terpisah dari tubuh kalian. Mengerti!”
    ”Siap laksanakan, komanadan!” keduanya memberi hormat.
    Setelah kejadian tersebut suasana menjadi tenang. Paling-paling mereka mengobrol dalam kelompok-kelompok kecil.
    ’Mereka bukan kelompok biksu. Siapakah sebenarnya mereka?’ Wei Nan bertanya-tanya dalam hati. ’Dan gadis itu adalah tawanan penting. Jangan-jangan pesakitan negara?’ Dia berusaha mengingat-ingat apakah ada kejadian di dunia persilatan yang melibatkan aparat kerajaan.
    Setelah sepeminuman teh dia mengingat-ingat kejadian-kejadian dalam lima tahun terakhir tidak ada suatu kejadian yang menghebohkan. Paling-paling pergantian ketua perkumpulan, pembasmian kelompok-kelompok penjahat. Tidak ada pemberontakan yang dilakukan oleh kaum petualang terhadap kerajaan.
    Tiba-tiba seperti disambar petir, Wei Nan tersentak. ‘Jangan-jangan masalah keluarga Ciu. Kalau masalah ini, aku harus ikut campur. Sudah ribuan nyawa manusia tak berdosa hilang. Kalau bisa menyelamatkan satu orang saja, itu lebih dari cukup. Aku harus menolong gadis itu,’ pikirnya mantap.
    Perlu diingat bahwa Wei Nan semenjak kecil berguru pada seorang pendekar sakti yang aneh. Dan setelah itu dia selalu bertualang mengamalkan ilmu silat untuk menolong yang lemah..Sehingga sampai usia hampir 40 tahun dia masih perjaka ting-ting. Pikirannya bersih dari nafsu birahi. Niat menolong gadis itu didorong dari rasa manusiawinya, tidak ada pikiran lain yang mendorong dirinya menolong gadis itu. Andaikata tawanan itu adalah seorang pria atau nenek-nenek sekalipun, tetap akan ditolongnya. Itulah jiwa luhur dari Pek I Kiamhiap.
    Sebagai seorang pendekar yang sudah bertualang belasan tahun, Wei Nan sudah terlatih baik jasmani maupun rohaninya. Dia pernah tidak beristirahat selama tiga hari tiga malam lamanya melakukan pengejaran terhadap kawanan penjahat yang melarikan diri. Dia juga pernah lima hari lima malam hanya minum saja karena persediaan makanan tipis pada suatu desa karena terkena bencana alam. Baginya nyawa manusia itu lebih penting daripada dirinya sendiri. Dia bukan ’super hero’ tetapi dia memiliki hati seperti dewa,
    Sambil menunggu kawanan biksu itu beristirahat, Wei Nan melakukan siulian untuk mengumpulkan semangatnya. Dia menyadari bahwa kawanan biksu itu bukanlah kawanan penjahat biasa. Mereka adalah orang-orang yang terlatih, bahkan dugaannya adalah mereka pasukan khusus dari pihak kerajaan. Bukan pekerjaan yang mudah untuk menyelamatkan tawanan dari tangan mereka apalagi untuk membasmi mereka.
    ’Lewat tengah malam, waktunya bertindak,’ katanya dalam hati. Pertama-tama dipelajarinya dahulu situasi perkemahan tersebut. Dilihatnya bahwa semua orang sudah tertidur. Kedua orang yang disebut A Gui dan A Bin juga terlihat duduk terkantuk-kantuk mengapit tawanan mereka. Mereka menganggap tempat itu tidak pernah dikunjungi orang sehingga kewaspadaan menjadi turun. Apalagi mereka berdua juga terpengaruh arak yang mereka minum tadi sore. Suasana benar-benar tenang. Si gadis juga tertiur karena kelelahan. Wei Nan menimbang-nimbang dalam hati, ditumpaskah kawanan biksu itu atau hanya menyelamatkan tawanan saja. Akhirnya perasaan hatinya yang mencintai nyawa seseorang itulah yang menang. ’Buat apa membunuh mereka. Mereka hanya melaksanakan tugas yang diberikan,’ demikian pemikirannya.
    Melaksanakan tugas. Bila seseorang isuruh membunuh orang lain, apakah dia salah? Kadang-kadang manusia mempunyai pemikiran yang salah. Bagi mereka, yang melaksanakan tugas itulah yang harus bertanggung jawab. Mereka lupa bahwa orang yang melaksanakan tugas juga memiliki permasalahannya sendiri. Bila dia menolak atau gagal melaksanakan tugas yang diberikan maka nyawa merekalah yang akan melayang. Sebenarnya yang harus dihukum itu adalah orang yang memberi perintah. Bila perintah yang diberikan itu sewenang-wenang maka kesalahan ada pada dirinya, bukan pada orang yang melaksanakan perintahnya.
    Tepatlah bila Wei Nan itu dihormati baik oleh golongan putih maupun golongan hitam. Sikapnya yang bijaksana itu diwariskan dari gurunya yang sering dianggap orang aneh oleh kawanan dunia persilatan. Orang aneh, hanya karena dia sering membela golongan hitam yang akan dibantai secara keji oleh orang-orang yang mengatakan dirinya dari golongan putih. Banyak orang-orang dari golongan hitam yang bertobat karena tindakan Hok Hong Koayjin yang mulia itu. Tetapi banyak juga yang akhirnya dibunuh sendiri olehnya karena berjanji mau bertobat tetapi dibelakang hari mengulangi perbuatannya yang jahat lagi.
    Dengan gerakan ringan dan cepat, Wei Nan menuju ke belakang A Gui an A Bin. Tanpa mereka menyadari keberadaan penyusup, mereka sudah ditotok hingga tidak sadarkan diri. Tidak sampai disitu saja, dia juga langsung memotong tali yang mengikat tawanan. Setelah ikatannya terlepas, sang gadis dibopong dalam keadaan masih tertidur menjauhi perkemahan tersebut. Semua itu dilakukannya dalam waktu kurang dari tiga menit dan gadis yang diselamatkan tidak terbangun dari tidurnya. Dapat dibayangkan kehebatan ilmu meringankan tubuh Pek I Kiamhiap tersebut. Dalam kegelapan malam Wei Nan meneruskan perjalanan dengan membawa seorang gadis mencari tempat peristirahatan.
    Keesokan paginya gemparlah isi perkemahan tersebut. Seorang dari biksu itu bangun pagi-pagi untuk buang hajat dikejutkan melihat tiang yang digunakan untuk mengikat tawanan sudah kosong. Dia lebih dikagetkan lagi karena kedua penjaga itu dilumpuhkan dengan mudah. Padahal mereka adalah anggota pasukan elite dari kerajaan. Karena terkejut, dia berteriak keras-keras sehingga seluruh isi perkemahan terbangun.
    ”A Hok, ada apa pagi-pagi begini teriak-teriak,” seorang temannya bertanya. ”Ada perempuan cantik yang datang ya?” sambungnya.
    “Perempuan cantik iya. Tetapi bukan datang melainkan pergi,” A Hok menjawab.
    ”Maksudmu, kamu baru mencumbu dia lalu ditinggalkan ya. Makanya kamu berteriak-teriak seperti orang kebakaran jenggot,” kelakar temannya yang lain.
    ”Jangan bercanda teman. Aku serius. Perempuan cantik yang menjadi tawanan kita menghilang. Lihat saja sendiri tiang tempat dia diikat kemarin,” sahut A Hok berang.
    ”APA?! Tawanan kita hilang? KURANG AJAR!!” merah padam muka si komandan. ”Bawa kemari A Gui dan A Bin. CEPAT!”
    ”Siap komandan!” dua orang biksu segera berlari menghampiri kedua penjaga malam yang sial itu. Karena ditotok lumpuh maka keduanya diseret menghadap komandan mereka. Setelah sampai dihadapannya, si komandan mengamati sejenak, kemudian dia menepuk punak kanan kedua bawahannya tersebut.
    ”Ternyata langkah kita tercium oleh kaum dunia persilatan. Lain kali harus lebih berhati-hati lagi,” dia berbicara kepada anak buahnya. ”A Gui, A Bin, apakah kalian mengetahui siapa yang melumpuhkan kalian?”
    Keduanya hanya bisa menggelengkan kepala. Wajah mereka kelihatan sangat lucu sekali. Perpaduan antara takut dan tidak tahu apa-apa.
    ”Benar kalian tidak tahu orangnya?” suara sang komandan berubah. Seluruh anak buahnya bergidik ngeri. Mereka merasakan ada hawa pembunuh muncul dari komandan mereka.
    A Gui dan A Bin berubah pucat. Keringat dingin bercucuran. Mereka tidak dapat mengucapkan sepatah katapun saking ketakutan. Menundukkan kepala, pasrah menanti ajal, itulah yang mereka dapat lakukan.
    ”Baiklah, jika kalian tidak tahu siapa yang menyerang kalian tengah malam tadi maka kalian tidak akan dapat membalas dendam bukan?” suara yang pelan tetapi dingin itu bagaikan suara petir di telinga kedua penjaga malam yang sial itu.
    ”Daripada hidup menanggung malu karena tidak dapat membalaskan kekalahan, lebih baik kalian mati dengan tenang,” sambil berkata demikian, dia mencabut pedangnya dan sekali tebas maka kepala kedua orang tersebut terpisah dari tubuhnya.
    ”Kalian semua, bereskan perlangkapan kita. Kita kembali ke ibukota.”
    ”Siap komandan.”
    Kesalahan yang dilakukan oleh manusia terkadang tidak memiliki kesempatan untuk diperbaiki. Lalai atau lengah dalam melaksanakan tugas itu memang kesalahan yang fatal. Kadang-kadang bisa sampai merenggut nyawa manusia. Kalau sudah begitu, bisakah kita mengatakan bahwa itu kelemahan manusia, lalai atau ceroboh alam melaksanakan tugas yang diberikan. Layakkah kita membela orang-orang yang karena kecerobohan atau kelalaiannya menyebabkan nyawa orang lain melayang?
    Kita mungkin dapat berkata kasihan keluarga yang ditinggalkan kalau dia harus dibunuh demi menebus kelalaian yang dilakukannya. Tetapi bagaimana dengan keluarga sang korban? Apakah mereka tidak perlu mendapat simpati dari kita?

  19. #19

    Default

    wah wah, why don't you translate it into english, then our brothers and sisters in spcnet forum can enjoy the story? kan mendingan pake google translate.. he he terusin dong!
    Last edited by bharata; 03-07-09 at 10:21 PM. Reason: mistype

  20. #20
    Senior Member Sillyana's Avatar
    Join Date
    Apr 2008
    Posts
    318

    Default

    Quote Originally Posted by bharata View Post
    wah wah, why don't you translate it into english, then our brothers and sisters in spcnet forum can enjoy the story? kan mendingan pake google translate.. he he terusin dong!
    yeah, you right aku selalu pake www.sederet.com untuk translate

    but I think if you have time, you can help mattmax00 to translate that story

Similar Threads

  1. PETA vs Bi (Rain)
    By pemberly in forum Entertainment News
    Replies: 17
    Last Post: 11-24-07, 05:25 PM

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts